Langsung ke konten utama

Postingan

All You Can Eat : Sushi Joobu

Hai! Long time no see! Biyasalah, deadliners yang terbiasa dikejer-kejer kandidat yang musti diisi terus akhirnya membuat saya agak mendiamkan blog ini (ceilah, bilang aja enggak ada topik) :p Oke, jadi belakangan ini saya sudah mengidam-idamkan makan sushi setelah sekian lama (satu atau dua bulan mungkin) akhirnya terpuaskan hari sabtu kemarin. Sebelumnya saya sudah beberapa hari saya janjian sama dengan teman saya yang kebetulan adalah "sushi addicted" juga sama seperti saya. Berdasarkan rekomendasi dari temannya juga waktu itu akhirnya kita berdua memutuskan untuk kesana. Hari sabtu siang, doi masuk setengah hari dan bela-belain jemput saya dari kantornya yang di daerah Pulogadung ke Pondok Bambu terus pergi menuju ke arah Kelapa Gading yang ternyata melewati kawasan Pulogadung pula. So sweet ya doi :'') Nama tempatnya Sushi Joobu. Letaknya ada di Jl. Kelapa Gading Boulevard, Blok WD2 No. 19, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Daerah Khusus Ibukota J...

Kartu merah untuk Gerrard

Pertandingan Manchester United-Liverpool semalam benar benar seru dan berakhir bahagia (buat saya). Akhir pertandingan ditutup skor 2-1 untuk kemenangan Manchester United. Well, biasanya setiap saya menonton pertandingan, biasanya MU akan kalah. Makanya ketika semalem menang, saya luar biasa leganya. Tidurpun nyenyak. :)) Bertanding di Anfield, Mu tampil dominan dengan menguasai hampir sepanjang pertandingan. Semalem saya sempat terlewat dengan goal pertamanya Juan Mata di menit ke empat belas dikarenakan saya harus memijit kaki ibu saya dulu. Rutinitas tiap malam. Oke, ketika goal pertama terjadi adik dan ayah saya diam. Saya tahu mereka anti MU. Terutama adik saya, dia Liverpundilan (sebutan untuk penggemar Liverpool). Lalu saya memberanikan diri untuk menonton pertandingan tersebut dengan perasaan harap-harap cemas. Karena pertandingan ini sangat krusial buat kedua klub yang ingin mempertahankan posisi ke empat demi masuk ke zona Liga Champion di musim depan. Oke. Babak pe...

Aku Benci Perpisahan!

Enggak akan ada yang siap dengan perpisahan. Semua orang yang dekat ataupun sekedar kenal nama. Entah itu karena putus cinta, kematian, pekerjaan, ataupun kelulusan. Apapun itu yang memisahakan beberapa orang yang dulunya dekat lalu terpisah jarak. Ah.. Aku benci dengan yang namanya perpisahan. Tidak ada yang enak dengan tidak bertemunya dengan orang-orang lama. Lalu kembali menjadi sendirian.. Jumat ini melow sekali menurutku. Entah karena cuacanya yang mendung atau karena aku melihat apa yang seharusnya tidak aku lihat. Tapi bagaimana mungkin jika aku baru saja dekat dengan mereka dan mereka pergi begitu saja ? Tidak. Hampir semua perpisahan memang dipaksakan keadaanya. Tidak ada yang menginginkannya meskipun mereka sadar bahwa perpisahan itu pasti datang. Lalu apa yang harus aku lakukan ketika aku melihat mereka satu persatu pergi meninggalkanku sendirian dan aku masih saja tetap disini? Sungguh, aku membenci perpisahan...

Medical Representative

Sewaktu saya bekerja menjadi Sales Customer Opticians di Kimia Farma, tentunya melayani pelanggan itu adalah harus yang sebaik-baiknya. Lalu, yang saya ingat adalah ada laki-laki yang waktu itu katanya sedang menunggu dokter mampir ke tempat saya, melihat-lihat frame katanya. Sebagai sales di tempat tentunya saya sambut dong itu orang. Saya layani sebaik-baiknya. Eh ternyata dia cuma melihat-lihat saja. Begitupun dengan besok-besoknya. Lama lama saya KZL juga kan. Akhirnya saya berani untuk bertanya masnya ini siapa. Terus dia menjawab saya dari Ka*Be. Waktu itu saya enggak ngeh, tapi memang begitu dokter umum yang buka praktek di Kimia Farma datang, biasanya dia buru-buru langsung menemuinya. Nah. Itu perkenalan saya yang pertama dengan seorang Medical Representative. Lalu, saya juga kebetulan dekat dengan SPG yang ada di apotek saat itu. Cerita-cerita lah kita. Salah satu SPG mengaku adiknya menjadi MR sekarang dan udah tajir. Punya motor bahkan. Saya bingung kan dengan is...

Akuntan vs Psikolog

Kmrn siang saya cari buku di perpus.. setelah dapet bukunya, saya cari tempat duduk buat baca. Satu-satunya bangku yg kosong di sebelah cewek cantik. Karena di perpus ga boleh berisik, saya bertanya lirih ke dia, "mbak, saya boleh duduk disini?" Eh.. tau-tau dia jawabnya keras banget.. "elo mau duduk disebelah gw supaya bisa ngajak gw tidur ntar malem..? Gak sopan banget sih loe..!!" Haduuh.. satu perpus ngeliatin gw dengan pandangan jijik.. Males ribut, saya gak jadi duduk, dan balik lagi ke rak mau balikin buku. Eh tuh cewek nyusul saya, trus berbisik.. "mas, saya psikolog, saya suka mengamati bagaimana reaksi cowok terhadap penolakan dan jika dipermalukan.. maaf ya kalo bikin kaget.." Saya jawab aja dengan suara keras.. "hah.. lima ratus ribu..?? Mahal amat.. security bilang tarif loe cuma seratus ribu..??" Satu perpus pada ngakak sambil lempar2 kertas ke dia.. sementara dia cuma bisa bengong.. Trus saya bisikin dia.. ...

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin

Begitu baca judulnya yang terlintas di kepala saya adalah "ini pasti novelnya berat".. Tapi ya ternyata saya ditempeleng oleh kata kata "Dont judge the book by the cover".. Ringan. Asli. Setiap kata yang dituliskan Darwis Tere Liye itu sungguh penuh makna. Selalu cantik. Walaupun endingnya saya tidak terlalu menyukai tapi jalan cerita yang dituliskan melalui kata-katanya membuat saya melupakan ketidak-enakan ending cerita tersebut. Cerita ringan mengenai kehidupan sosial, keluarga, cinta dan harapan dikemas menjadi sebuah alur yang sangat sangat tidak terduga. Kalau saya sudah membaca cerita seperti ini biasanya akan lupa diri. Waktu bisa saya sangat singkat ketika sibuk membolak balikan halaman demi halaman demi ujung cerita yang tidak terlintas sejak awal. Oke. Cerita tentang sepasang kakak beradik yang bernama Tania dan Dede adiknya yang masih berusia sebelas dan delapan tahun harus bekerja demi makan. Mereka pengamen jalanan. Lalu suatu saat...

Seuntaian Kata

Hi, Kalian.. Iya, kalian yang selama ini saya anggap teman.. Entah kalian menganggap saya ini apa.. Hi, Kalian.. Yang mungkin harus kalian ketahui adalah.. saya ini punya hati dan perasaan loh.. Yah, mungkin kalian lupa.. Hi, Kalian.. Bisakah memberi teguran cukup sekali dan tidak usah menyinyir? Katanya kalian ini teman. Teman yang baik katanya bisa memberikan ucapan yang santun kepada temannya. Itu juga mungkin saya lupa.. Hi, Kalian.. Tak sadarkah kalian bahwa keluhan keluhan yang kalian lontarkan pernah saya rasakan juga? Perbedaannya adalah saya berusaha menekannya mati-matian, sedangkan kalian tidak. Kalian sekarang hanya sibuk dengan pekerjaan kalian. Tapi tidak merasakan kesibukannya orang dengan dua persoalan (Kuliah dan Bekerja) yang mereka berusaha untuk tidak dikeluhkan. Memikirkan keuangan dirinya dan keluarganya. Berjuang di kehidupan. Sedangkan kalian? Tidur tinggal tidur. Makan tinggal makan. Mereka tidak seberuntung kalian.. Masih mengel...